Jumat, 06 Juli 2012

informasi dan berita pemakaman di jakarta


Lahan Kuburan di Jaktim Makin Tipis

Lahan Kuburan di Jaktim Makin Tipis


Jakartapress.com  – 
Setiap hari rata-rata ada 42 orang meninggal di Jakarta Timur.  Setiap jenazah butuh lahan 5,5 meter untuk makam. Sementara banyak lahan Tempat Pemakaman Umum  (TPU) dihuni bangunan liar.

Di Jakarta Timur terdapat 28 Tempat Pemakaman Umum (TPU) dengan luas lahan sekitar 170 hektar. Menurut Kasudin Pemakaman Jakarta Timur I Made Sudhiarta luas lahan itu tidak mencukupi untuk kebutuhan orang meninggal.

"Area pemakaman yang ada sekarang ini tidak seimbang jika dibandingkan dengan jumlah rata-rata perhari orang yang meninggal di Jakarta Timur," ucap Made.

Di Jakarta Timur, dalam satu hari ada rata-rata ada sekitar 42 orang meninggal dunia. Setiap satu jenazah membutuhkan lahan 1,5 X 2,5 meter, sehingga luas lahan yang dibutuhkan per orang yaitu 5,5 meter.

Jika ditotalkan, luas lahan yang dibutuhkan sekitar 210 meter untuk menguburkan orang yang meninggal per hari. Sedangkan untuk satu bulan, Sudin Pemakaman Jaktim membutuhkan lahan seluas 6,2 hektar.

Untuk mengantisipasi keterbatasan itu,  Dinas Pemakaman harus melakukan penertiban terhadap bangunan liar yang berada di atas lahan pemakaman. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kebutuhan lahan agar tidak secara terus menerus memakamkan dengan sistem tumpang tindih.

"Pemakaman tumpang tindih terpaksa dilakukan karena minimnya area pemakaman akibat banyaknya bangunan liar yang berdiri di TPU. Untuk mengatasinya, kami harus tertibkan bangunan liar yang berada di TPU di Jaktim secara bertahap," papar Made.

Senin (19/12) pagi, sekitar 373 bangunan liar di pemakaman Cina di Cipinang Besar Selatan dibongkar petugas Satpol PP Jakarta Timur. Seluruh bangunan itu dibongkar petugas karena telah memanfaatkan lahan pemakaman sebagai tempat tinggal.

"Mereka menempati area pemakaman, jadi terpaksa kita bongkar semua. Mereka sudah diberi surat peringatan dan surat perintah bongkar tapi tidak dituruti," ujar Sarpu, Kasatpol PP Jaktim.

Pembongkaran itu sesuai dengan Perda No. 8 Tahun 2007 tentang ketertiban umum. Dan bagi mereka pemilik bangunan pun tidak diberikan uang ganti rugi terhadap tempat tinggalnya yang dibongkar. [inl/fu]

Sumber
http://www.jakartapress.com/detail/read/8207/lahan-kuburan-di-jaktim-makin-tipis

 Kuburan di kuasai Preman 

JAKARTA, KOMPAS.com 
 
Pengamat perkotaan Yayat Supriatna menilai, jaring-jaring kekuasaan preman telah menggerogoti hampir seluruh sektor layanan publik, tak terkecuali kawasan pemakaman.
"Bukan hanya kawasan perkantoran dan tempat-tempat umum, pemakaman sekalipun sudah dikuasai para preman. Hasil penelitian saya menunjukkan kuburan-kuburan di Jakarta sudah ada penguasa2nya terang Yayat Supriatna, saat ditemui di Gallery Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (3/3/2012).

Ia menjelaskan, orang yang akan dikebumikan harus meminta izin atau membeli lahan kepada mereka. Ia mengakui, pemakaman-pemakaman umum di Jakarta memiliki pengelola atau pemilik lahan. Namun, karena fungsi-fungsi kelembagaan tidak berjalan normal, ada hal-hal yang tak tersentuh orang awam yang akhirnya diserahkan atau dikuasai oleh tangan-tangan di luar pemangku kewenangan formal.
"Memang ada pengelolanya (pemakaman). Tapi, mereka tidak bisa mengatur semuanya. Karena itu, diserahkan ke tangan preman-preman," beber pengajar Universitas Trisakti ini.
Dari sisi ini, Yayat menyatakan telah terjadi malpraktik dalam sistem layanan publik. Pasal, ruang-ruang yang sebenarnya harus dikelola untuk melayani masyarakat telah berkembang menjadi ruang abu-abu yang dikelola secara formal maupun nonformal.
Ia berharap, Gubernur DKI mendatang adalah orang yang mampu membenahi berbagai ketimpangan yang terjadi pada sektor layanan publik. Orang tersebut haruslah pribadi yang memiliki kekuatan mental untuk memberangus kekuatan-kekuatan nonformal yang mengganggu kepentingan masyarakat umum.

Editor :
Asep Candra

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/03/03/19311722/Di.Jakarta.Kuburan.pun.Dikuasai.Preman
 KRITIS LAHAN PEMAKAMAN

kini semakin sempit, seiring makin padatnya penduduk di Jakarta. Kantor Pelayanan Pemakaman atau KPP DKI Jakarta, memanfaatkan sistem pemakaian tumpangan memanfaatkan makam yang tidak membayar retribusi untuk mengatasi kelangkaan lahan pemakaman.

Ketersedian lahan untuk pemakaman di Jakarta sudah semakin kritis. DKI Jakarta dengan luas wilayah sekitar 65 ribu hektar, saat ini hanya memiliki 575 hektar lahan pemakaman yang sudah terpakai hingga 80 %. Setiap bulannya, sekitar 2 hektar lahan pemakaman terpakai karena tingkat kematian mencapai 110 orang per hari.

Kantor Pelayanan Pemakaman DKI Jakarta, kini memberlakukan sistem pemakaman tumpangan. Yaitu memumpangkan makam baru pada makam lama. Biasanya sistem tumpangan ini dilakukan terhadap 2 jenazah yang masih kerabat. Sehingga cara ini baru digunakan sekitar 6 %.
Alternatif lain adalah pemakaman ulang, yakni makam yang sudah tidak diurus ahli warisnya dipakai untuk memakamkan jenazah lain. Selain itu, Kantor Pelayanan Pemakaman DKI Jakarta, juga menambah lahan pemakaman sebanyak 200 hektar yang diperkirakan cukup hingga tahun 2007 mendatang. Namun upaya menambah lahan pemakaman terhalang oleh mahalnya biaya pembebasan tahan. (Budi Pranoto dan Gunadi/Sup)

http://www.indosiar.com/fokus/kritis-lahan-pemakaman-di-jakarta_26637.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar